Teknologi Pendidikan Untuk Masa Kini / Masa Depan




Satu topik yang kita membahas kemarin yang menurut saya paling penting adalah Profesionalisme bidang Teknologi Pendidikan. Pada awal pembahasan kemarin saya sebut bahwa:

"Salah satu masalah di dunia teknologi pendidikan, luar negeri sama saja, adalah "skills" ilmuwan teknologi pendidikan sudah hilang. Solusinya sekarang selalu adalah komputer! Padahal sering yang paling cocok adalah peraga, realia, atau teknologi sederhana".
Ref: http://teknologipendidikan.com/teknologi.html
(http://teknologipendidikan.com/solusi.html#ilmuwan)

Pengalaman saya di Indonesia sudah membantu membuka mata saya lebih lebar terhadap masalah ini. Dulu saya merasa masalah ini terjadi karena kolega-kolega dan teman-teman saya (TPers) sendiri selalu mengarah ke teknologi baru karena seperti saya sendiri menyukai belajar mengenai teknologi baru, menghadapi tantangan-tantangan baru dan berpartisipasi dalam perkembangan baru.

Tetapi sekarang kalau saya "reflect" pada isu-isu di luar negeri dulu mungkin juga bukan kolega TPer yang salah. Apakah Kami Salah - atau kami diantar ikut jalan ini?

Saya masih ingat waktu transisi TP sebagai profesi mulai mengarah ke yang saya suka sebut Era "joki teknologi baru". Saya mengalami transisi itu antara tahun 1988 dan 1993 waktu saya bekerja sebagai Technical Officer di Centre for Language Teaching and Research di salah satu universitas di Queensland, Australia.

Dari administarsi departemen kami sering ada peraturan baru untuk meminimalkan biaya "consumables" misalnya kertas untuk photocopier, film untuk OHP, pena untuk whiteboard dan dll karena anggarannya sangat terbatas, katanya. Padahal kalau ada dosen yang meminta 20 komputer untuk membuat lab komputer untuk percobaan pembelajaran lewat komputer anggaran biasanya disediakan.

Kelihatannya kalau dosen perlu bahan dasar yang terkait langsung dengan mutu pembelajarannya beliau dapat disulitkan. Tetapi kalau beliau meminta beberapa komputer untuk program yang "belum tentu meningkatkan mutu pendidikan sama sekali" beliau dapat dibantu. Aneh menurut saya tapi nyata!

Ini bukan hanya fenomena yang pengaruhi consumables tetapi kalau dosen ingin membuat audio casettes, film, video, atau menggunakan media yang lain kelihatannya sering tidak begitu diperhatikan oleh administrasi di universitas. Mengapa begini?

Saya yakin untuk mengerti masalah ini kita perlu mengerti sifatnya politiks di universitas. Walapun universitas ini adalah universitas umum dan disubsidi oleh pemerintah mereka selalu sangat konsern terhadap status umum maupun akademik. Status dapat mempengaruhi jumlah dan prestasi pelajar yang ingin masuk kampusnya, maupun status juga dapat mempengaruhi grants oleh pemerintah, lembaga-lembaga lain, atau dari sektor bisnis, yang biasanya untuk penelitian.

Salah satu cara untuk mendapat perhatian oleh pers dan lembaga lain adalah menjalakan penelitian yang menggunakan teknologi terbaru (being seen to be on the cutting-edge - dilihat sebagai pelopor). Ini adalah mind-set yang kelihatannya berdominasi pada waktu itu. Isu-isu mutu pendidikan, maupun efektivitas bukan prioritas, apa lagi harganya bukan isu terpenting lagi.

Mungkin ini tidak terlalu sulit dipahami kalau kita melihat pada zaman itu juga di Indonesia, apa lagi pada waktu 1982 sampai 1990. Karena saya sudah banyak pengalaman dengan lab bahasa dan bekerja di proyek yang high-tech saya sering dipanggil oleh sekolah-sekolah bahasa untuk merekomendasikan lab bahasa. Saya sering bertanya mereka mengapa ingin memakan anggaran besar untuk membeli lab bahasa padahal sekolahnya masih relatif kecil. Jawabannya selalu sama, lab bahasa bukan isu yang terkait dengan program meningkatkan mutu pembelajaran, tetapi sekolah-sekolah lain yang mempunyai lab bahasa dan mempromosikan teknologinya mempunyai daya tarik tinggi dan sangat berhasil.

"Berhasil" dinilai dari jumlah pelajar dan penghasilan, bukan dari mutu pendidikannya. Akhirnya marketing untuk lab bahasa dan pentingnya (pentingnya untuk bisnis) ditingkatkan terus, masih sampai sekarang. Beberapa bulan yang lalu saya dikontak dari sekolah di Singapore oleh guru yang minta informasi mengenai lab bahasa. Walapun saya sebut bahwa ada beberapa strategi yang lebih murah dan efektif daripada lab bahasa dan beliau sendiri setuju, yang memiliki sekolah merasa status mempunyai lab bahasa masih adalah isu yang penting untuk bisnisnya.
Ref: http://educationtechnology.us/issues.html

Mengapa banyak pihak di bidang teknologi maupun pejabat masih medorong high-technology (misalnya e-learning) sebagai solusi untuk pendidikan walapun kenyatan di lapangan "Satu Komputer Untuk 2.000 Siswa" dan "dari jumlah total yang mencapai 200.000 sekolah, sekitar 182.500 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA se-Indonesia belum terakses internet" tidak mendukung atau memungkinkan melaksanakan progrmnya. Sebagai pendidik saya selalu tanya dimana hasil penelitian di Indonesia yang dapat mendukung statemen-statemen begini? Tetapi ini adalah pertanyaan yang kelihatannya tidak popular dan tidak perlu dijawab.

Hal lain yang perlu dipikirkan adalah mengapa bisnis-bisnis teknologi dan komunikasi sangat mendukung program seperti ini? Satu faktor yang saya baru menyaksikan di negara ini adalah pemerintah bekerjasama bisnis. Di negara maju pemerintah dan bisnis tidak boleh bergabung karena kesempatan yang ada untuk kolusi. Apakah bisnis dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah?

Menurut saya, isu utama terhadap profesi Teknologi Pendidikan adalah bagaimana merancang Kurikulum dan Pelatihan untuk Calon Teknologist Pendidikan di Indonesia yang sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan di lapangan, tetapi menghadapi isu-isu lain?

Ada beberapa peran lain untuk e-Teknologi yang perlu diperhatikan, misalnya untuk mahasiswa-mahasiswi yang jauh dari kampusnya, atau yang harus menyesuaikan waktu untuk belajar dengan tugas kerja atau pertangunggjawaban sebagai Ibu Rumah Tangga.

Juga ada market multi-million Dolar untuk produk e-learning untuk pelatihan di industri maupun pendidikan tertentu di luar negeri. Sekarang sudah ada beberapa perusahaan di Indonesia yang sudah mulai berhasil mengekspor bahannya.

Tetapi kebutuhan SDM Teknologi pendidikan yang paling banyak dan paling penting (menurut saya) ada di sektor pendidikan umum yang oleh meningkatkan mutu pendidikan dengan "Appropriate Technology" di semua sekolah dapat sangat mempengaruhi masa depan bangsa kita.

Jelas merancang kurikulum yang tepat untuk Teknologi Pendidikan adalah sesuatu yang sangat kompleks tetapi sangat penting untuk menjaminkan TPers yang profesional dan siap untuk menghadapi semua tantangan maupun menggunakan semua kesempatan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Phillip Rekdale
DRAFT UNTUk DISKUSI (1 September, 2009)

Diskusi dari Facebook Teknologi Pendidikan:

Sigit Prasetyo; tapi bapak yang saya tahu di jurusan khususnya malah membuat kreasi untuk masa mendatang contohnya mobile learning.hal tersebut jika dilihat dari konteks masyarakat indonesia masih terlalu diatas.

Phillip Rekdale; Terima kasih. Re: "mobile learning" Saya sangat setuju dengan kreativitas yang sesuai dengan mengatasi kebutuhan, tetapi m-learning???
http://teknologipendidikan.com/solusi.html#solusi

Phillip Rekdale; Apakah belum cukup "Gangguan Jiwa Gara-gara Facebook dan Blackberry"
http://beritapendidikan.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=12&artid=1840

Sigit Prasetyo; iya bapak, d tambah sekarang ada teman d jurusan memakai konsep m-learning, saya kira hal tersebut sangat tidak appropriate tech untuk indonesia. mungkin hal tersebut sesuai untuk australia.

Phillip Rekdale; Seperti saran saya ke Agus Triaso kemarin "k-edukasi (di kelas)? Mutunya edukasi di kelas belum diatasi untuk kebanyakan anak tetapi kita sudah sampai m-edukasi, betul hebat! Kapan semua anaka-anak kita dapat mengakses pendidikan bermutu di kelas? Apakah m-edukasi (mobile) ini adalah edukasi untuk anak-jalanan? :-)"

Saya kira kalau pemerintah mau membagi 1 Hi-Tech HP ke semua anak-jalanan itu baik. Bukan untuk belajar, mereka dapat menjual HP-nya dan makan :-)

Phillip Rekdale; Re: "Australia" Keadaan-nya jauh berbeda. Tahap utama, mutu pendidikan di semua sekolah dan kampus sudah dijaminkan. Di sini kita selalu ingin loncat ke tahap ke10. Ada info mengenai m-learning di Australia di sini, enjoy!
http://www.districtadministration.com/viewarticle.aspx?articleid=1319&p=3

Tetapi ingat di Australia tidak ada "Ratusan Siswa Masih Belajar di Lantai, Banyak yang Masuk Angin..."

Phillip Rekdale; Salah satu isu yang sangat penting di sini adalah SDM yang mengurus proses pembelajarannya. Kalau website Fakultas Pendidikan tidak dapat di-update selama setahun, bagaimana dengan m-learning?
http://teknologipendidikan.com/solusi.html#serius

Sebenarnya semua masalah pendidikan kita berasal dari SDMnya. Membuat teknologi adalah mudah, tetapi mutu pendidikan tergantung mutu proses pembelajaran, bukan teknologi.
"Masalahnya SDM solusinya Teknologi" - Tidak Cocok
.

Teknologi Pembelajaran; Tetapi meningkatkan SDM oleh menggunakan Teknologi Yang Cocok - Bisa!
"Approriate Technology" adalah solusinya
.

Bambang Santoso; Perkembangan media elektronik kian pesatnya... bagaimana kita mengantisipasi dan memanfaatkanya semaksimal mungkin u proses belajar. menurut saya di mana lahir suatu produk teknologi di situ pula terjadi proses pemanfaatan teknologi dalam pendidikan bahkan pembelajaran.

Phillip Rekdale; Terima kasih pak. Re: "Perkembangan media elektronik kian pesatnya" Ya memang benar, tetapi masalahnya guru-guru belum dapat menggunakan teknologi whiteboard semaksimal mungkin, apa lagi semua generasi teknologi yang lain yang muncul terus-menurus. Biasanya guru belum memahami teknologi yang baru muncul dan ada yang baru muncul lagi. Kita harus balik ke pertanyaan yang paling penting di bidang teknologi pendidikan "Apakah kita perlu teknologi canggih untuk menghasilakan pendidikan yang bermutu." Jawabannya tetap tidak. Kecuali kalau mengajar teknologi.
http://teknologipendidikan.com/teknologi.html

Phillip Rekdale; Apakah bapak merasa proses dan mutu pembelajaran di contoh di atas akan lebih baik kalau saya menggunakan laptop dengan layar-layar yang dibelakang peserta yang peggang kertas besar itu. Coba membaca layarnya! Peserta di tengah ruang saja tidak dapat membaca. Teknologi yang mana lebih effektif? Apa lagi yang mana lebih mengajak peserta lebih aktif dalam proses pembelajaran?

Tadi saya sebut bahwa whiteboard saja belum dimaksimalkan, sebetulnya kertas saja belum dimaksimalkan. Ini namanya Ilmu Teknologi Pendidikan - pengertian peran dan manfaatnya teknologi yang paling efektif dalam proses pembelajaran. Banyak profesor di luar negeri masih menggunakan whiteboard saja. Bukan ketinggalan zaman, menurut mereka whiteboard masih adalah medium yang paling cocok.

Sigit Prasetyo; iya, yang disampaikan pak philip memang benar perkembangan teknologi pendidikan saat ini cenderung tidak berpikir tentang teknologi untuk pembelajaran tapi hanya teknologi yang memimpikan..

Teknologi Pembelajaran; Masalahnya pak, dengan banyak informasi dan retorika oleh marketing untuk teknologi yang terus muncul kayaknya Ilmuwan Teknologi Pendidikan sudah mulai lupa akarnya.
"Keahlian memilih dan membantu mengimplementasikan teknologi yang paling efektif dalam proses pembelajaran". Biasanya ini adalah teknologi yang sangat sederhana.


 
  

teknologi informasi masa kini





Sebagai makluk sosial, manusia membutuhkan sandang, pangan, dan papan, namun untuk berinteraksi di antara satu sama lainnya manusia perlu berkomunikasi. Komunikasi bisa dilakukan secara langsung (verbal) dan tidak langsung (non verbal). Untuk komunikasi tidak langsung, maka diperlukan alat-alat bantu. Mulailah manusia mencari alat atau sistem untuk saling berinteraksi, misal dengan gambar, lukisan, isyarat dengan tangan, isyarat bunyi, kemudian ditemukan kode huruf, kata, kalimat, dan tulisan. Perkembangan alat komunikasi terus berlanjut sampai ditemukan telepon dan internet yang kita kenal saat ini. Alat atau sistem komunikasi kemudian dikenal dengan sebutan Teknologi Informasi atau lebih dikenal dengan istilah IT.
Di era globalisasi ini memungkinkan banyaknya akses untuk mencari informasi dari segala penjuru dunia. Salah satunya adalah melalui perpustakaan. Dengan adanya perpustakaan kita dapat mencari, mengolah ataupun menyimpan data, yang kini telah berkembang dalam bentuk digital, atau yang dikenal dengan perpustakaan digital.
Teknologi informasi atau Information and Communication Technology (ICT) telah membawa perubahan dalam berbagai sektor, termasuk perpustakaan. Perubahan penting dan mendasar bagi pengelolaan perpustakaan, baik dalam memberikan layanan maupun dalam menjalin hubungan antar lembaga, unit atau institusi.
Terjadinya perubahan pola pikir tentang perpustakaan, yaitu penyediaan koleksi yang dimiliki ke arah konsep “tidak harus memiliki” akan tetapi dapat “memberikan informasi”, telah menjadikan jalinan kerjasama antar perpustakaan dalam menampilkan koleksi yang dapat memudahkan penyampaian informasi, semakin mudah untuk diwujudkan, apalagi dengan adanya ICT. Maka konsep gedung yang besar dan mewah serta banyaknya koleksi bukan merupakan sesuatu yang ideal lagi.
Oleh karena itu pengembangan perpustakaan yang berbasis ICT atau teknologi informasi dan komunikasi bagi tenaga pengelola perpustakaan, dapat membantu pekerjaan di perpustakaan melalui fungsi sistem otomasi perpustakaan, sehingga proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif dan efisien.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pemanfaatan sistem teknologi informasi dan komunikasi yang berbasis ICT, khususnya teknologi komputer di perpustakaan, yang berfungsi mengontrol sistem administrasi layanan secara terkomputerisasi. Sedangkan bagi pengguna perpustakaan, dapat membantu mencari sumber-sumber informasi yang diinginkan dengan menggunakan katalog on-line yang dapat diakses melalui intranet maupun internet.

Pengertian Information Communications Technologies (ICT).
• Informasi
Menurut Budi Sutedjo (2002:168) dan Rahayuningsih, Rochaety, Yanti, (2006:4). Informasi merupakan pemrosesan data yang diperoleh dari setiap elemen sistem menjadi bentuk yang mudah dipahami dan merupakan pengetahuan yang relevan dan dibutuhkan, dimana Informasi itu sendiri merupakan pernyataan yang menjelaskan suatu peristiwa sehingga manusia dapat membedakan antara satu dengan yang lainnya.
• Teknologi Informasi
Menurut (Main, 2008) TI dapat diartikan sebagai teknologi yang digunakan untuk menyimpan, menghasilkan, mengolah serta menyebarkan informasi. Teknologi Informasi atau IT (Information Technology) merupakan mata rantai dari perkembangan SI (Sistem Informasi). Kalau dilihat dari susunan kata, yakni kata teknologi dan informasi, maka teknologi informasi dapat diartikan sebagai hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dari pengirim ke penerima.
• Information Communications Technologies (ICT)
Di The Dictionary of Computers, Information Processing and Telecommunications (Hariyadi, 1993: 253, dalam Ardroni), teknologi informasi diberi batasan sebagai teknologi pengadaan, pengolahan, penyimpanan, dan penyebaran berbagai jenis informasi dengan memanfaatkan komputer dan telekomunikasi yang lahir karena “… adanya dorongan-dorongan kuat untuk menciptakan teknologi baru yang dapat mengatasi kelambatan manusia mengolah informasi…”
2.2 Manfaat ICT di Dunia Perpustakaan
Hampir sebagian kehidupan kita dikelilingi oleh teknologi informasi baik yang sederhana maupun yang canggih. Saat kita ingin menyampaikan pesan yang sangat penting ke tempat yang jauh, tak terbayangkan bila informasi tersebut harus kita sampaikan dengan daun lontar atau dikirim melalui burung merpati pos. Penggunaan telepon sangat memudahkan kita untuk menyampaikan informasi sepenting apapun dalam waktu yang singkat apalagi dengan perkembangan telepon genggam dengan fitur dan kelengkapan fungsi yang semakin beragam.
Perpustakaan dengan berbagai ciri khas dan kemampuannya dalam mengelola informasi, mempunyai alasan tersendiri mengapa perpustakaan perlu menggunakan ICT sebagai alat bantu, di antaranya:
1. Sistematika informasi : terjadinya ledakan informasi yang membanjiri dunia saat ini membutuhkan pengelolaan yang lebih sistematis. Hampir semua Perguruan Tinggi di Indonesia menggunakan ICT dalam pengelolaan data base perpustakaan.
2. Tingginya akses informasi: kebutuhan pengguna untuk mencari dan menemukan kembali informasi lebih mudah jika difasilitasi dengan sarana ICT . Katalog online memungkinkan pustakawan dan pengguna untuk mendapatkan informasi dari berbagai sumber. Sudah menjadi hal yang lumrah untuk menyusun pengajuan daftar pustaka baru dengan mengunjungi dan menggunakan data-data di http://www.amazon.com
3. Efisiensi pekerjaan: komputer di perpustakaan membantu pekerjaan menjadi lebih cepat. Pencatatan buku-buku baru serta pengolahan akan lebih mudah jika disimpan dalam berkas komputer. Pengkatalogan tidak hanya dengan DDC atau AACR juga bisa secara online ke http://www.bl.uk
4. Memudahkan tukar-menukar informasi dalam bentuk data. Katalog induk yang disusun Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Jawa Barat sudah on-line di http://cobian.lib.itb.ac.id/fpptjabar/
5. Salinan data atau informasi yang dibuat dapat diseragamkan sehingga memudahkan pengguna (user friendly). Konsep MARC yang populer tahun 90an masih digunakan dalam rangka menyeragamkan penentuan tag (ruas) data bibliografi pustaka.
6. Penyajian informasi dan data yang menarik, sekaligus sebagai promosi perpustakaan. Tampilan informasi di http://www.lib.itb.ac.id merupakan upaya dalam rangka promosi perpustakaan dengan penampilan data yang bervariasi.
7. Pengguna dapat belajar dan mencari sendiri informasi yang dibutuhkan dengan bantuan sarana ICT, khususnya komputer.
2.3 Dampak Penggunaan ICT
Kehadiran ICT di perpustakaan, selain menguntungkan juga berdampak sampingan di antaranya:
• Dapat menimbulkan pengangguran: penggunaan komputer bertujuan memperingan dan mempercepat pekerjaan, sehingga terjadi efisiensi pekerjaan karena beban kerja yang berkurang.
• Hak pribadi : kemungkinan adanya penyalahgunaan data untuk kepentingan pribadi. Adanya peluang untuk memindahkan data yang tadinya milik pribadi atau rahasia, dapat diakses oleh orang lain. Data di http://ftpsearch.itb.ac.id dengan mudahnya dapat diakses dan didownload untuk kepentingan kantor atau pribadi.
• Hak cipta : perlindungan hak cipta seseorang sulit diwujudkan. Sebuah karya atau kumpulan data dapat dengan mudah dikopi dan dimiliki oleh orang lain tanpa seizin pemiliknya. Terlebih jika bertujuan untuk mencari keuntungan pribadi. Ceramah-ceramah ramadan dengan mudahnya kita dapatkan di situs http://www.pesantrenvirtual.com
• Data tidak dapat diakses: ketergantungan pada komputer menimbulkan kelemahan bila listrik mati atau komputer terserang virus, maka data tidak dapat diakses.
Fenomena pemadaman listrik akhir-akhir ini, bukan sekedar menghambat akses data, tetapi juga menimbulkan ”pengangguran” selama listrik mati.
Serangan virus ”brontok” dan turunanya menjadikan data dan folder sulit di akses kembali.
• Menghambat pekerjaan : ketidakmampuan dan ketidakmauan pustakawan dalam menguasai teknologi dapat menimbulkan kendala dan memunculkan anggapan bahwa teknologi justru menghambat pekerjaan.
2.4 Implementasi Pemanfaatan ICT di Perpustakaan.

Implementasi ICT di perpustakaan perlu direncanakan secara matang karena memerlukan pendanaan yang tidak murah, apalagi perkembangan teknologi khususnya komputer terus berubah dengan sangat cepat. Hal ini untuk mengantisipasi kinerja aplikasi ICT dapat dioptimalkan. Kesia-siaan dapat terjadi karena perencanaan yang kurang baik yang dapat mengakibatkan pemborosan.
Beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan dalam rangka penerapan ICT pada perpustakaan, yakni:
• Adanya dukungan dari semua pihak terutama pimpinan.
• Aplikasi ICT tidak hanya instalasi sistem, tetapi mengisi data dan menjalankan sistem, maka perlu adanya kesinambungan pekerjaan yang dilakukan pustakawan.
• Perawatan (maintenance) harus menjadi bagian dari aplikasi ICT.
• Penyiapan sumber daya pustakawan dalam berbagai unit kerja di perpustakaan, terutama pembekalan keterampilan IT untuk pustakawan.
• Infrastruktur pendukung seperti listrik, ruang/gedung, furniture, desain interior.
• Ketersediaan Jaringan komputer.
• Profil pengguna perpustakaan perguruan tinggi relatif seragam, sehingga sosialisasi aplikasi ICT lebih mudah.
Adapun penerapan teknologi informasi di perpustakaan dapat difungsikan dalam bentuk:
1. Automasi Perpustakaan: Konsep Sistem Informasi Manajemen (SIM) perpustakaan, yang menekankan aplikasi ICT antar sub sistem informasi perpustakaan pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi, pengelolaan anggota, dan statistik dalam bentuk terintegrasi. Model otomasi perpustakaan di http://otomasi.lib.itb.ac.id merupakan model dengan studi kelayakan yang cukup panjang.
2. Perpustakaan Digital : Penerapan teknologi informasi sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan dan menyebarluaskan informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi lokal secara full text dalam format digital seperti tugas akhir (skripsi, tesis, disertasi), laporan penelitian, artikel majalah ilmiah, dapat dilihat di http://digilib.itb.ac.id
3. Publikasi e-books : Publikasi buku elektronik untuk kepentingan lokal (internal), dimaksudkan untuk kemudahan dalam pencarian dan mendapatkan kembali secara utuh sesuai dengan format aslinya. Koleksi berupa buku lokal atau buku terbitan asing dapat dilihat di http://e.lib.itb.ac.id.
Buku Sekolah Elektronik (BSE) terbitan DIKNAS, dapat didownload pada alamat http://www.diknas.info/category/bse-sd. Bentuk koleksi *.pdf dipublikasikan secara bebas dalam rangka mendukung buku murah. Buku-buku tersebut telah dibeli hak ciptanya oleh DIKNAS.
Ketiga fungsi penerapan teknologi informasi ini dapat terpisah maupun terintegrasi dalam suatu sistem informasi, tergantung dari kemampuan software yang digunakan, sumber daya manusia, dan infrastruktur peralatan teknologi informasi yang mendukung ketiganya.
Hal-hal tersebut di atas akan menentukan sejauh mana penerapan ICT di perpustakaan dapat berjalan dengan baik, khususnya pada unit layanan perpustakaan.
Penerapan ICT dalam bidang layanan perpustakaan ini dapat dilihat dari beberapa hal:
• Peranan Katalog
Katalog manual atau elektronik merupakan jantung sebuah sistem perpustakaan. Katalog memuat keterangan singkat atau wakil dari suatu dokumen. Sistem katalog yang dirancang dengan baik merupakan kunci keberhasilan penerapan automasi perpustakaan.
Hasil katalog terkomputerisasi dapat diakses melalui Online Public Access Catalogue (OPAC) atau dalam bentuk Katalog Induk (Unions Catalogue), sebagai contoh adalah http://isisonline.lib.itb.ac.id. Pangkalan data katalog terpasang berangsur-angsur akan menggantikan katalog kartu, microfiche atau daftar buku.
• Sirkulasi
Penerapan ICT dalam bidang layanan sirkulasi dapat meliputi banyak hal di antaranya adalah layanan peminjaman dan pengembalian, statistik pengguna, administrasi keanggotaan, dll.
Teknologi saat ini sudah memungkinkan adanya self-services dalam layanan sirkulasi melalui fasilitas barcoding dan RFID (Radio Frequency Identification). Implementasi RFID bidang perpustakaan, masih tergolong baru. Oleh karena itu, implementasi RFID ini akan memberikan nilai ekslusivitas. Selain itu, akan mewujudkan revolusi dalam manajemen perpustakaan modern. RFID memberikan keunggulan yang signifikan bila dibandingkan dengan teknologi barcode dan tag anti pencurian. Keunggulan utamanya adalah pada meningkatnya kualitas pelayanan serta penghematan biaya operasional tenaga perpustakaan.
• Jurnal / Majalah / Berkala
Pengguna layanan jurnal, majalah, dan berkala akan sangat terbantu apabila perpustakaan mampu menyediakan kemudahan dalam mengakses jurnal-jurnal elektronik, baik itu yang diakses dari database lokal, global maupun yang tersedia dalam format Compact Disk.
Pembuatan kliping elektronik (E-Klip ITB) berbasis CD ROM, merupakan upaya pengumpulan dan pengelolaan artikel-artikel dari majalah dan surat kabar cybermedia. Bahkan silang layan dan layanan penelusuran informasipun bisa dimanfaatkan oleh pengguna dengan bantuan teknologi informasi seperti internet.
Ketersediaan jurnal elektronik, salah satunya adalah proquest http://proquest.umi.com/login (Purwono,2008) yang menyediakan artikel full text lebih dari 4000 jurnal, suratkabar dan majalah. Cakupan isi terbitan yang tersedia meliputi 10 s.d 20 tahun ke belakang, dan hasil penelusurannya dalam bentuk full text , html, pdf. Proquest dapat diakses baik melalui intranet http://www.proquest.com/pqdauto tanpa menggunakan password, maupun melalui internet http://www.proquest.com/pqdweb dengan menggunakan password yang berganti setiap bulan.
• Peran Internet
Orang sudah tidak asing lagi untuk menggunakan internet dalam kehidupannya. Untuk itu perpustakaanpun harus dapat memberikan layanan melalui media ini. Melalui media web, perpustakaan memberikan informasi dan layanan kepada penggunanya. Selain itu, perpustakaan juga dapat menyediakan akses internet baik menggunakan computer station maupun WIFI. Access Poin Cyberlib yang tersedia di perpustakaan pusat ITB, dapat digunakan pengguna sebagai bagian dari layanan yang diberikan oleh perpustakaan.
Perpustakaan juga bisa menggunakan fasiltas web-conferencing untuk memberikan layanan secara interaktif kepada pengguna perpustakaan. Web-Conferencing ini dapat juga dimanfaatkan oleh dosen dalam rangka kuliah jarak jauh. Awal tahun 2008, perpustakaan ITb mendapat hibah peralatan Tele Conference dari keduataan Amerika.
OPAC atau Online Catalog merupakan bagian penting dalam sebuah perpustakaan, untuk itu perpustakaan perlu menyediakan akses yang lebih luas baik itu melalui jaringan lokal, internet maupun intranet,
Registrasi online di http://or.itb.ac.id sudah mejadi bagian layanan di perpustakaan pusat ITB.
• Keperluan Pengguna
Pustakawan harus dapat melayani keperluan pengguna seperti permintaan dengan akses yang lebih cepat ke informasi yang diperlukan dari dalam maupun luar perpustakaan. Dengan begitu, diharapkan agar para pustakawan mahir dalam penggunaan teknologi informasi sehingga mereka dapat membantu pengguna perpustakaan dalam menemukan informasi yang diperlukan.
• Keamanan
Teknologi komunikasi dan informasi juga dapat digunakan sebagai alat untuk memberikan kenyamanan dan keamanan dalam perpustakaan, dari tangan-tangan jahil dengan fasilitas semacam gate keeper, security gate, CCTV dan lain sebagainya.
• Pengadaan
Bagian Pengadaan juga sangat terbantu dengan adanya teknologi informasi ini. Selain dapat menggunakan ICT untuk melakukan penelusuran koleksi-koleksi perpustakaan yang dibutuhkan, bagian ini juga dapat memanfaatkan ICT untuk menampung berbagai ide dan usulan kebutuhan perpustakaan oleh pengguna. Kerjasama pengadaan juga lebih mudah dilakukan dengan adanya ICT ini.
2.5 Kesiapan Pustakawan:
1. Keahlian diri
Menurut Ahmad (2001), pustakawan adalah mitra intelektual yang memberikan jasanya kepada pengguna. Kemampuan tentang komputer saja tidaklah cukup untuk mencapai sukses, karena itu dibutuhkan keahlian diri yang cukup yaitu:
1. Pemecahan masalah (kreatif, pencair konflik);
2. Etika (diplomatis, jujur, profesional);
3. Terbuka (fleksibel, berwawasan bisnis, berpikir positif);
4. Penutur dan pendengar yang baik (ketrampilan berkomunikasi lisan
dan mendengarkan, penuh perhatian)
5. Kepemimpinan (bertanggung jawab dan mempunyai motivasi);
6. Berminat belajar (haus akan pengetahuan dan perkembangan).
2. Berpikir positif
Pustakawan diharapkan menjadi orang yang berpengetahuan di atas rata-rata, juga sebagai seseorang yang selalu berpikiran positif, sehingga jika dihadapkan pada pekerjaan besar, harus mampu mengerjakan pekerjaan tersebut.
3. Nilai Tambah Pribadi
Pustakawan tidak cukup hanya pandai dalam mengatalog, mengindeks, mengadakan bahan pustaka dan pekerjaan rutin lainnya, tetapi di era global ini pustakawan harus mempunyai nilai tambah. Misalnya sebagai navigator yang ahli dalam pencarian informasi. Dengan nilai tambah yang dikembangkan melalui pengalaman dan pelatihan, pustakawan dapat memberikan pemanduan pencarian informasi di internet seakurat mungkin. Hal ini tentu akan memuaskan pengguna perpustakaan. Kepuasan pengguna itu sangat mahal bagi dirinya maupun bagi perpustakaan dimana ia bekerja.
4. Berwawasan Kewirausahaan
Seyogyanya pustakawan dapat bertindak cepat untuk menambah wawasan dalam bidang kewirausahaan, agar dalam perjalanan sejarah keprofesiannya nanti dapat bertahan bahkan berkembang. Perpustakaan bukan masanya lagi menjadi unit cost di suatu institusi, melainkan dapat menjadi unit income. Paradigma lama bahwa Perpustakaan hanya pemberi jasa atau amalan baik (charity) harus segera ditinggalkan, karena berjasa atau beramal dapat digabungkan dengan berbisnis.
5. Kerja Tim
Di dalam era global saat ini tidak ada satupun profesi yang terkucil sendiri, akan tetapi perkembangan teknologi telah menawarkan kesempatan unik untuk bekerjasama lintas disiplin dengan profesional lainnya. Misalnya, pakar komputer yang bertanggung jawab pada pusat computer; pakar teknologi yang bertanggung pada infrastruktur teknologi, jaringan dan aplikasi; pakar informasi (pustakawan) yang mempunyai kemampuan dan pengalaman untuk mengorganisasi pengetahuan dalam sistem dan struktur yang memfasilitasi penggunaan sumber informasi dan pengetahuan, dapat tergabung dalam sebuah teamwork. Diharapkan dengan team work, berbagai tekanan yang muncul di era industri informasi saat ini dapat dipecahkan.
Kesimpulan
• Implementasi ICT dalam layanan perpustakaan dari waktu ke waktu akan terus berkembang sesuai dengan tuntutan. Baik tuntutan selaku pengelola (pustakawan) maupun sebagai pengguna (user) informasi.
• ICT memberikan kemudahan kepada pengguna untuk mengakses informasi lintas batas (transborder data-flow), yang tidak dibatasi oleh batas negara, ruang dan waktu.
• ICT memberikan kemudahan bagi pengelola informasi untuk mengolah, menyimpan dan menyebarkannya secara cepat dan tepat.
• ICT menjadi sarana membangun perpustakaan berbasis teknologi yang kehadirannya tidak bisa dihindari.
• ICT seperti juga teknologi lainnya merupakan alat bantu manusia untuk mencapai tujuan, maka optimasi dan antisipasinya perlu disikapi secara terencana.
• ICT sebagai sarana terbentuknya jaringan teknologi informasi dan komunikasi di perpustakaan, akan memberikan akses yang besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
http://andyku.wordpress.com/2008/07/25/perpustakaan-masa-depan
http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=60
http://media.diknas.go.id/media/document/4696.pdf

10 Teknologi Perintis Komputer Masa Kini

Komputer canggih yang kita nikmati saat ini bukanlah hasil kerja satu orang saja. Peranti pintar itu merupakan hasil kerja gotong royong sejumlah ilmuwan, teknisi dan tentu saja vendor pengembangnya. Berikut 10 daftar teknologi komputer dari masa ke masa yang menghasilkan kecanggihan komputer masa kini.

1. IBM Roadrunner

Mimpi tentang superkomputer tercepat memang sulit diwujudkan, tapi akhirnya direalisasikan juga oleh IBM. Lebih besar dari komputer ENIAC tahun 1946, IBM Roadrunner disebut sebagai mesin pertama yang bisa memroses data dalam hitungan petaflop, yakni lebih dari kuadriliun operasi per detiknya. Tapi setelah beberapa dekade, kecepatan ini sama saja dengan sebuah desktop masa kini.
2. Apple Macintosh
Komputer untuk semua kalangan, itulah yang dikenalkan Apple tahun 1984. Dengan tampilan grafis menawan yang bukan sekedar perintah rumus-rumus membosankan ala DOS. Kita mengenalnya kini sebagai Graphical User Interface (GUI)
3. PC IBM
Era 1980-an, komputer personal identik dengan IBM. Sebab memang IBM-lah yang merintis hadirnya standar peranti lunak dan keras di pasaran komputer personal. Akhirnya standar ini diikuti semua vendor komputer sedunia sampai saat ini.
4. Apple II
Diperkenalkan oleh Apple tahun 1977 dan bertahan hingga 15 tahun, Apple II membuktikan bahwa mereka mampu jadi produk massal. Canggih di grafis warna di era itu dan penggunaan yang cukup mudah bagi orang awam. Metode inilah yang konon ditiru Microsoft.
5. TRS-80
Masih di tahun 1977, Radio Shack meluncurkan mikrokomputer yang laku keras sebanyak 3000 unit. Produk ini disebut sebagai komputer pertama yang paling mudah digunakan oleh siapa saja hingga anak sekolah sekalipun.
6. Xerox PARC Alto
Ini adalah komputer tunggal dengan tampilan grafis beserta jendela dan ikon, sebuah tetikus untuk mengontrol kursor dan hard drive lokal, serta koneksi Ethernet ke jejaring kantor. Semuanya tergabung dalam Alto, mesij eksperimen yang dikembangkan Xerox Palo Alto Research Center (PARC) tahun 1974. Tapi Xerox tidak pernah meluncurkan Alto ke pasaran.
7. Datapoint 2200
Kalau hanya komputer tunggal saja sudah dipasarkan pada 1970 oleh Computer Terminal Corp (CTC). Sampai saat ini pun apikasi Datapoint 2200 masih dipakai paa PC. Pihak CTC menjadi rekanan Intel untuk meringankan bebas prosesor mesin menjadi chip tunggal.
8. IBM System/360
Dengan serangkaian standar periperal dan model-model yang kompatibel, S/360 memenuhikebutuhan komputer bisnis saat IBM merilisnya di tahun 1964. Ini bisa dikatakan sebagai rintisan saat komputer mulai dibutuhkan di dunia bisnis. Juga sebagai tonggak ekonomi industri komputer modern.
9. ENIAC
Inilah “nenek moyang ” komputer masa kini yang menakjubkan. Dikembangkan oleh militer AS, Electronic Numerical Integrator And Computer (ENIAC) menjadi cikal bakal komputer pada tahun 1946. Walau mesin ini menakjubkan di masanya, namun secara ukuran sangat tidak praktis. Mesin ini terdiri dari 17.478 tabung fakum dengan bobot 30 ton dan mengonsumsi 150 kilowat listrik.
10.Mesin Diferensiasi
Charles Babbage tertantang saat pemerintah Inggris minta dibuatkan sebuah mesin yang bisa menghasilkan tabel matematika. Dari sini Babbage mendesain komputer sederhana pertama yang bisa memproses perhitungan matematika secara otomatis. Inilah dasar dari kinerja komputer masa kini.

CM10H


CM-10H (DCMA-82) with MMCX Pigtail

cm10big

CM10-H (MMCX) is a high power 600mW(28dBm) IEEE802.11a/b/g 108Mbps wifi mini-PCI module with two MMCX RF connectors designed specifically for integration in reliability/performance-critical applications. High power design with advanced SuperAG feature, CM10-H (MMCX) is ideal for embedding into super-range and high-speed applications such as outdoor point to point or building to building wireless Access Point/Bridge connections.
Optional WinCE 4.2/5.0 drivers enable ASD manufacturers to provide products that enjoy improved innovation and time to market through trouble-free WiFi integration.


Key Feature :

  • Average power up to 200mW (23dBm) and peak power up to 600mW (28dBm) on both 802.11a and 802.11 b/g modes provide superior wifi coverage.



  • Mini-PCI Type IIIA form factor with screw hole is ideal for solid mounting onto motherboard.



  • Supported by MADWiFi providing Linux kernel drivers for industrial, academic, or personal projects at highest flexibility and lowest cost.



  • Windows 98/ME/2000/XP/NT4.0/Vista drivers and site survey function provide immediate 11a/b/g wifi and management capability.



  • Optional WinCE4.2/5.0 drivers assure trouble-free WiFi integration.



  • Supports universal 802.11a/11g/11b auto fallback data rate and seamless roaming among 802.11a, 802.11b, and 802.11g multiple AP wifi networks.



  • Super AG® supports data rate up to 108Mbps in 802.11a and 802.11g super mode.



  • Future support of 802.11d (Regulatory Domain), 802.11e (Quality of Service, WMM), and 802.11h (TPC/DFS/DFS2) by software upgrade.



  • Supports 64/128/152-bit WEP encryption, IEEE 802.1x authentication, AES & TKIP, and CCX3.0 encryption.



  • Heat sink design provides reliable high power RF performance.



  • Two MMCX antenna connectors enable robust assembly and lower loss for external antenna.



  • RoHS compliance meets environment-friendly requirement.

  • Web Browser

    link>
    Sebuah Web browser adalah sebuah aplikasi perangkat lunak yang memungkinkan pengguna untuk menayangkan dan berinteraksi dengan tulisan, gambar, video, musik dan berbagai informasi lainnya yang terdapat pada halaman Web di sebuah situs di World Wide Web atau di jaringan LAN lokal. Tulisan dan gambar di halaman Web dapat mempunyai hyperlinks ke halaman Web lain di mesin yang sama atau di situs web lainnya. Web browser memungkinkan pengguna secara cepat dan mudah mengakses informasi yang diberikan oleh banyak situs Web dengan cara menjelajahi link tersebut. Web browser memformat informasi HTML untuk di tayangkan, oleh karena itu penampakan halaman Web akan agak berbeda dari satu browser ke browser yang lain.
    Ada beberapa Web browser yang dapat di gunakan di komputer, yaitu, Mozilla Firefox, Safari, Konqueror, Opera, Flock, Epiphany, K-Meleon dan AOL Explorer. Pada saat ini Firefox merupakan Web browser terbaik yang banyak digunakan di Internet. Bagi mereka yang menggunakan Linux Ubuntu Firefox sudah langsung terinstalasi tanpa perlu menginstalasi lagi.
    Web browser ini kebanyakan digunakan sebagai agen pengguna dari HTTP. Walaupun Web kebanyakan digunakan untuk mengakses World Wide Web, dia juga dapat digunakan untuk mengakses informasi di Web server di jaringan lokal dan isi dari file system di harddisk.

    Akses Web ke File Yang ada di Situs OpenSource
    Akses Web ke File Yang ada di Situs OpenSource
    Tampak pada gambar adalah file yang ada di situs opensource di telkomspeedy yang dapat di akses pada alamat http://opensource.telkomspeedy.com/speedyorari/ yang memuat sekitar puluhan Gbyte file, buku, dan perpustakaan yang dapat di ambil secara bebas.

    Akses File di Komputer 192.168.0.1
    Akses File di Komputer 192.168.0.1
    Bagi anda yang berada di jaringan komputer lokal dan mengaktifkan fasilitas Network Neighbourhood, kita dapat dengan mudah melihat file yang ada di berbagai folder di komputer lain menggunakan Web browser dengan alamat smb://alamat-ip-komputer. Perhatikan alamat yang digunakan adalah smb:// bukan http:// yang biasa digunakan di Web. Menggunakan alamat smb://alamat-ip-komputer kita dapat mengakses folder di komputer lain. Dalam gambar di perlihatkan kita mengakses file pada komputer smb://192.168.0.1/
    Akses File di komputer sendiri pada folder /home
    Akses File di komputer sendiri pada folder /home
    Manfaat lain dari sebuah Web browser adalah melihat file yang ada di komputer kita sendiri dengan menggunakan alamat file:///folder/yang/akan/kita/lihat/, maka kita akan membuka folder /folder/yang/akan/kita/lihat dan menayangkan semua file yang ada di folder tersebut.

    English French German Japanese Korean Chinese Russian Spanish
    India Saudi Arabia Netherland Portugal Italian Philippines Ukraina Norwegia
    Powered by
    Widget translator

    TV Online

    Followers

    blogger. Powered by Blogger.

    free counters
    powered by Blogger | Designer by Rinaldy